Monday, March 02, 2009

Tentang Jodoh

Suatu hal yang unik dan luar biasa. Bertemunya antara seorang laki-laki dan perempuan, yang bisa dikatakan sudah berjodoh, melalui sesuatu yang unik, seperti halnya bertemunya sel telur dan sel jantan pada proses pembuahan makhluk hidup.

Allah SWT telah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai suatu pasangan. Karena kodratnya sebagai suatu pasangan, maka satu sama lain pasti akan saling melengkapi. Laki-laki diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta beberapa kelebihan khusus yang pada hakikatnya dibutuhkan oleh sang perempuan. Begitu juga sebaliknya, perempuan diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya serta beberapa sifat khusus yang pada hakikatnya nanti akan melengkapi kekurangan laki-laki.

Inilah salah satu keajabian dunia yang jarang diakui oleh manusia itu sendiri. Dalam kehidupan nyata, jodoh sering datang dengan cara yang tidak disangka-sangka oleh manusia. Sebenarnya, kapan kah jodoh itu ditetapkan? Apakah jodoh itu merupakan suatu takdir? Jika ya, apakah jodoh itu termasuk takdir yang tidak bisa diubah atau termasuk takdir yang bisa diubah?

Bagi saya, itu masih menjadi pertanyaan yang belum bisa dijawab.

Bagi orang yang belum menikah, bila mereka ditanya mengapa belum belum menikah, sebagian besar dari mereka menjawab bahwa mereka belum menemukan jodohnya. Benarkah demikian? Mungkin ada benarnya.

Menurut saya tidaklah demikian. Jodoh sebenarnya akan datang ketika kita sudah siap menerimanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Atau, bisa jadi sebenarnya jodoh itu sudah datang, tapi manusia tidak menyadarinya atau bahkan tidak mau menerimanya. Untuk kasus yang kedua ini, bisanya hal itu terjadi pada orang yang terlalu berorientasi pada dunia, dan kurang berorientasi pada akhirat. So, iman orang tersebus masih diragukan.

Bagaimana kita tahu bahwa seseorang yang datang pada kita adalah jodoh kita?

Thursday, February 19, 2009

Kasih Sayang (by Raihan)

Kasih sayang itu titi
Kasih sayang penghubung hati
Kasih sayang itu tali
Kasih sayang pengikat diri

Dari kasih timbul simpati
Dengan sayang ada persaudaraan
Karena kasih ingin berbakti
Saling sayang maaf memaafkan

Kasih sayang itu baja
Kasih sayang penyubur jiwa
Kasih sayang itu penawar
Penguat cinta penghapus duka

Kasih manusia sering bermusim
Sayang manusia tiada abadi
Kasih Tuhan tiada bertepi
Sayang Tuhan janji-Nya pasti

Tanpa kasih sayang Tuhan
Tiada simpati tiada persaudaraan
Tanap kasih sayang Tuhan
Tiada bakti tiada kemaafan

Kasih sayang pada semua
Kasih sayang sesama kita
Kasih sayang dunia
Moga selamat di akhirat sana

Wednesday, February 18, 2009

Ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh


Mudah diomongkan tapi sangat sulit menerapkannya. Bahkan 'gumunan' telah menjadi budaya yang telah berakar kuat di sebagian masyarakat pedesaan. Kita bisa mengamati pada peristiwa 'Pembagian zakat pasuruan' dan 'dukun cilik Ponari'. Kalau dilihat secara sekilas, kedua peristiwa itu terlihat sebagai suatu fenomena kesenjangan sosial dan kemiskinan masyarakat. Tapi jika dilihat dari sudut pandang filosofi, itu mencerminkan budaya masyarakat (desa) yang 'gumunan'.

Dimulai dari 'getuk tular', masyarakat kemudian mulai 'gumun' atau penasaran dengan fenomena yang terjadi dan kemudian ingin membuktikannya. Yang paling jelek adalah ketika masyarakat merasa 'gumun' pada bencana alam. Makanya, tak heran jika bencana alam justru dijadikan sebagai suatu tontonan, tapa adanya kemauan untuk melakukan tindakan. Tidak hanya pada bencana alam saja, bahkan pada hampir semua bencana, misalnya kecelakaan lalu lintas dan bunuh diri.

Sedangkan budaya 'kagetan' biasanya sering muncul pada kalangan umat Muslim. Ini merupakan dua sisi mata uang, di satu sisi merupakan suatu kelebihan sedang di sisi lain merupakan kelemahan mendasar kebanyakan kaum Muslimin. Budaya 'kagetan' ini tercermin dalam tindakan yang cenderung 'reaksionis'. Makanya, pihak-pihak yang tidak suka dengan Islam dengan mudah dapat membangkitkan reaksi kaum muslimin dengan memunculkan berbagai sindiran, ejekan dan rumor-rumor lainnya.

Namun demikian, tak jarang juga budaya kagetan ini ditemukan pada kaum 'miskin dan terpinggirkan'. Contoh sederhananya bisa kita temukan setiap kali mau diberlakukannya suatu undang-undang, yang terbaru adalah undang-undang pornografi dan undang-undang pengendalian dampak tembakau. Dalam kedua contoh tersebut, masyarakat ramai-ramai kaget dan merasa perlu melakukan 'perlawanan balik'.

Yang terakhir, 'dumeh' sering muncul pada kaum yang OKB (Orang Kaya Baru).....

Tentang Supanggung

Adalah SUPANGGUNG, jabang bayi yang dilahirkan pada bulan Oktober tahun 1983. Dilahirkan pada hari Sukra Kasih menurut penanggalan Jawa. Pada saat jabang bayi tersebut lahir, sedang diadakan acara 'bersih desa'. Acaranya ini merupakan acara rutin tahunan dimana biasanya digelar berbagai macam agenda. Kebetulan pada saat dia lahir, sedang digelar pertunjukan wayang kulit.

Entah kebetulan atau memang sudah takdir Yang Kuasa, waktu itu yang berperan sebagai dalang adalah 'bapak'-nya sendiri. Setelah sekian lama hubungan kekeluargaan antara keluarga sang bayi dengan keluarga 'bapak', hubungan itu terjalin kembali melalui perantaraan sang bayi. Tak heran jika kedua orang tua sang bayi menyebut dia sebagai 'tepung sedulur (mempertemukan saudara)'.

Bayi yang baru lahir ini dimandikan dan oleh sang 'bu dhe' dibawa ke tempat pertunjukan wayang kulit. Tepat pada saat 'goro-goro' sang bayi diserahkan ke pada ki dalang yang kemudian meletakkan bayi tersebut di pangkuannya. Dengan mengucak syukur alhamdulillah, dan dengan memohon berkah kepada Yang Maha Kuasa, ki dalang, dengan disaksikan oleh seluruh warga yang hadir pada pertunjukan tersebut, memberikan nama SUPANGGUNG, pada jabang bayi tersebut.

Jabang bayi SUPANGGUNG, dengan diiringi dari 'bapak', dibawa pulang ke pangkuan sang bunda.

SUPANGGUNG secara harfiah terdiri dari kata SU yang artinya 'bagus' dan PANGGUNG yang bisa diartikan sebagai 'tempat mencari ilmu'. Dengan nama ini sang bayi diharapkan nantinya akan bisa menjadi 'tempat mencari ilmu yang baik bagi umat manusia'. Secara luas, SUPANGGUNG bisa diartikan sebagai 'tempat menumpahkan segala macam persoalan dan cerita kehidupan', seperti halnya panggung yang berfungsi sebagai tempat untuk mencurahkan segala ekspresi seseorang.