Thursday, February 28, 2008

SUNAN KALIJAGA




Raden. Mas Syahid atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga., adalah putera dari Ki Tumenggung Wilatika, bupati Tuban, ada pula yang mengatakan, bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sabur Tumenggung Wilatika, dikatakan dalam riwayat, bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga juga memperoleh 3 orang putera, masing-masing : .R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Diantara para Wali Sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filosofi. daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena itu beliau adalah terhitung seorang mubaligh keliling (reizendle mubaligh). jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh pada kaum ningrat dan sarjana.

Kaum bangsawan dan cendekiawan amat simpatik kepada beliau. karena caranya beliau menyiarkan agama islam yang disesuaikan dengan aliran jaman, Sunan Kalijaga adalah adalah seorang wali yang kritis, banyak toleransi dan pergaulannya dan berpandangan jauh serta berperasaan dalam. Semasa hidupnya, sunan kalijaga terhitung seorang wali yang ternama serta disegani beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif mengaran cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam dengan lain perkataan, dalam cerita-cerita wayang itu dimaksudkan sebanyak mungkin unsur-unsur ke-Islam-an,. hal ini dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat di Jawa pada waktu itu masih tebal kepercayaannya terhadap Hinduisme dan Buddhisme, atau tegasnya Syiwa Budha, ataupun dengan kata lain, masyarakat masih memagang teguh tradisi-tradisi atau adat istiadat lama.

Diantaranya masih suka kepada pertunjukan wayang, gemar kepada gamelan dan beberapa cabang kesenian lainnya, sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijaga sebagai salah seorang mubaligh untuk memeras otak, mengatur siasat, yaitu menempuh jalan mengawinkan adat istiadat lama dengan ajaran-ajaran Islam assimilasi kebudayaan, jalan dan cara mana adalah berdasarkan atas kebijaksanaan para wali sembilan dalam mengambangkan Agama Islam di sini.

Sunan Kalijaga, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan masyrakat dari yang atas sampai yang bawah. hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa beliau itu benar-benar manusia besar jiwanya, dan besar pula jasanya. sebagai pujangga, telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. disamping itu pula beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.

Sunan Kalijaga adalah pengarang dari kitab-kitab cerita-cerita wayang yang dramatis serta diberi jiwa agama, banyak cerita-cerita yang dibuatnya yang isinya menggambarkan ethik ke-Islam-an, kesusilaan dalam hidup sepanjang tuntunan dan ajaran Islam , hanya diselipkan ke dalam cerita kewayangan. oleh karena Sunan Kalijaga mengetahui, bahwa pada waktu itu keadaan masyarakat menghendaki yang sedemikian, maka taktik perjuangan beliaupun disesuaikannya pula dengan keadaan ruang dan waktu.

Berhubung pada waktu itu sedikit para pemeluk agama syiwa budha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali kiranya apabila dalam memperkembangkan agama islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana. para wali termasuk didalamnya Sunan Kalijaga mengetahui bahwa rakyat dari kerajaan Majapahit masih lekat sekali kepada kesenian dan kebudayaan mereka, diantaranya masih gemar kepada gemalan dan keramaian-keramaian yang bersifat keagamaan Syiwa-Budha.

Maka setelah diadakan permusyawaratan para wali, dapat diketemukan suatu cara yang lebih supel, dengan maksud untuk meng-Islam-kan orang-orang yang belum masuk Islam. cara itu diketemukan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang yang terkenal berjiwa besar, dan berpandangan jauh,berfikiran tajam, serta berasal dari suku jawa asli. disamping itu beliau juga ahli seni dan faham pula akan gamelan serta gending-gending (lagu-lagunya).

Maka dipesanlah oleh Sunan Kalijaga kepada ahli gamelan untuk membuatkan serancak gamelan, yang kemudian diberinya nama kyai sekati. hal itu adalah dimaksudkan untuk memperkembangkan Agama Islam.

Menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudan konperensi besar para wali, diserambi Masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rebana (Bhs. Jawa Terbangan) menurut irama seni arab. Hal ini oleh Sunan Kalijaga hendak disempurnakan dengan pengertian disesuaikan dengan alam fikiran masyarakat jawa. maka gamelan yang telah dipesan itupun ditempatkan diatas pagengan yaitu sebuah tarub yang tempatnya di depan halaman Masjid Demak, dengan dihiasai beraneka macam bungan-bungaan yang indah. gapura mashidpun dihiasinya pula, sehingga banyaklah rakyat yang tertarik untuk berkunjung ke sana, gamelan itupun kemudian dipukulinya betalu-talu dengan tiada henti-hentinya.

Kemudian dimuka gapura masjid, tampillah ke depan podium bergantian para wali memberikan wejangan-wejangan serta nasehat-nasehatnya uraian-uraiannya diberikan dengan gaya bahasa yang sangat menarik sehingga orang yang mendengarkan hatinya tertaik untuk masuk ke dalam masjid untuk mendekati gamelan yang sedang ditabuh, artinya dibunyikan itu. dan mereka diperbolehkan masuk ke dalam masjid, akan tetapi terlebih dahulu harus mengambil air wudlu di kolas masjid melalui pintu gapura. upacara yang demikian ini mengandung simbolik, yang diartikan bahwa bagi barang siapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian masuk ke dalam masjid melalui gapura (dari Bahasa Arab Ghapura) maka berarti bahwa segala dosanya sudah diampuni oleh Tuhan.

Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh sunan kalijaga (periode demak) diberi motif “burung” di dalam beraneka macam. sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. di dalam bahasa kawi, burung itu disebut “kukila” dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari rangkaian kata : “quu” dan “qilla” atau “quuqiila”, yang artinya “peliharalah ucapan (mulut)-mu.

Hal mana dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar selalu baik tutur katanya, inilah diantaranya jasa sunan kalijaga dalam hal seni lukis. Dalam hubungan ini dibuatnya model baju kaum pria yang diberinya nama baju “takwo”, nama tersebut berasal berasal dari kata bahasa arab “taqwa” yang artinya ta’at serta berbakti kepada Allah SWT.

Nama yang simbolik sifatnya ini, dimaksudkan untuk mendidik kita agar supaya selalu cara hidup dan kehidupan kita sesuai dengan tuntunan agama. Nama Kalijaga menurut setengah riwayat , dikatakan berasal dari rangkaian Bahasa Arab ‘ Qadli Zaka, Qadli - artinya pelaksana, penghulu : sedangkan Zaka - artinya membersihkan. jadi Qodlizaka atau yang kemudian menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga itu artinya ialah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama Islam.

Konon kabarnya Sunan Kalijaga itu usianya termasuk lanjut pula, sehingga dalam masa hidupnya, beliau antara lain mengalami tiga kali masa pemerintahan, pertama jaman akhkh Siti Jenar sesungguhnya tak ada disini, yang ada hanyalah Tuhan yang Sejati.
ujarnya pula :

“Awit seh lemang bang iku, wajahing pangeran jati. nadyan sira ngaturana, ing pangeran kang sejati, lamun Syekh Lemah Bang ora, mansa kalakon yekti”

Artinya :
Oleh karena Syekh Siti Jenar itu sesungguhnya adalah wajah wujudnya Tuhan sejati, meskipun engkau menghadap kepada Tuhan yang sejati, manakala siti jenar tidak, maka tidaklah hal itu akan terlaksana. pada waktu Maulana Maghribi memberi wejangan bahwa yang disebut Tuhan Allah Sejati itu Wajibul Wujud (kang aran Allah jatine, wajibul wujud kang ana), maka Syekh Siti Jenar pun menjawablah, katanya :

“Aja ana kakehan semu, iya ingsun iki Allah, nyata ingsun kang sejati, jejuluk Prabu Satmata, tan ana liyan jatine, ingkang aran bangsa Allah”

Artinya :
jangan kebanyakan semu, saya inilah Allah. saya sebetulnya bernama Prabu Satmata, dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan. Oleh karena segala ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar ini dipandang sangat membahayakan kepada rakyat, maka akhirnya beliau pun dihukum mati oleh para wali. Jikalau kita ikuti segala ucapan-ucapan Siti Jenar tersebut di atas, maka hal itu mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran dan ucapan-ucapan salah seorang misticus yang masyhur, yaitu Al Hallaj (858-992). sebagaimana diketahui, Al Hallaj pernah berkata:
“Annal haqq” artinya : “sayalah kebenaran yang sejati itu”

kemudian katanya pula :
“wa’ma fi jubbati illa-lah” artinya “dan tidak ada yang dalam jubah , melainkan Allah”.

Disamping itu al hallaj juga pernah mengatakan :
“Telah bercampur rohmu dalam rohku, laksana bercampurnya chamar dengan air jernih bila menyentuhi akanmu sesuatu, tersentuhlah aku, sebab itu engkau adalah aku”

Dalam segala hal demikianlah pandangan hidupnya. ucapan dan ajarannya inilah yang mengakibatkan dia dihukum mati di atas tiang gantungan, karena dianggap berbahaya dan menyesatkan oleh pemerintah Bagdad. kedua ahli mistik, baik Al Hallaj maupun Syekh Siti Jenar fahamnya condong kepada ajaran pantheisme, kesatuan antara makhluk dengan khalik Maha Penciptanya. dan keduanya pun mengalami pula nasib yang sama, karena mereka harus menebus keyakinan hidupnya dengan hukuman mati.

Kemudian kita dapati pula ucapan Siti Jenar yang lain, yang tampak isinya lebih mengutamakan hakekat daripada syari’at, katanya :

“Sahadat salat puwasa kawuri, apa dene jakat lawan pitrah, ujar iku dora kabehm nora kena ginugu, Islam tetep durjaning budi, ngapusi kyehning titah, sinung swarga besuke, wong bodo kanur ulama, tur nyatane pada bae ora uning, beda syekh siti jenar.”

Selanjutnya berkatalah Syekh Siti Jenar :
“Tan mituhu salat lawan dikir, jengkang-jengking neng masjid ting krembyah, nora nana ganjarane, yen wus ngapal batukmu, sejatine tanpa pinanggih, neng dunya bae pada susah amemikul, lara sangsaya tan beda, marma siti jenar mung madep wajidi, gusti dat roning kamal”.

Demikianlah antara lain pandangan hidup serta ajaran-ajaran dari Syekh Siti Jenar. Dalam riwayat dikatakan bahwa murid Syekh Siti Jenar adalah : Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Pengging, Pangeran Panggung, Ki Lontang.

Menengok konflik Masa Lalu

Biasanya, konflik yang terjadi di kalangan ulama -terutama ulama jaman dahulu, lebih banyak diakibatkan karena persoalan (rebutan pengaruh) politik. Tidak hanya terjadi pada era kiai-ulama masa kini, tapi sejak jaman Wali Songo-pun, konflik seperti itu pernah terjadi. Bahkan, sejarah Islam telah mencatat bahwa jenazah Muhammad Rasulullah SAW baru dimakamkan tiga hari setelah wafatnya, dikarenakan para sahabat justru sibuk rebutan soal posisi khalifah pengganti Nabi (Tarikh Ibnu Ishak, ta’liq Muhammad Hamidi). Di era Wali Songo -kelompok ulama yang “diklaim” oleh NU sebagai nenek-moyangnya dalam perihal berdakwah dan ajarannya, sejarah telah mencatat pula terjadinya konflik yang “fenomenal” antara Wali Songo (yang mementingkan syari’at) dengan kelompok Syekh Siti Jenar (yang mengutamakan hakekat). Konflik itu berakhir dengan fatwa hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dan pengikutnya. Sejarah juga mencatat bahwa dalam persoalan politik, Wali Songo yang oleh masyarakat dikenal sebagai kelompok ulama penyebar agama Islam di Nusantara yang cukup solid dalam berdakwah itu, ternyata juga bisa terpolarisasi ke dalam tiga kutub politik; Giri Kedaton (Sunan Giri, di Gresik), Sunan Kalijaga (Adilangu, Demak) dan Sunan Kudus (Kudus). Kutub-kutub politik itu memiliki pertimbangan dan alasan sendiri-sendiri yang berbeda, dan sangat sulit untuk dicarikan titik temunya; dalam sidang para wali sekalipun. Terutama perseteruan dari dua nama yang terakhir, itu sangat menarik. Karena pertikaian kedua wali tersebut dengan begitu gamblangnya sempat tercatat dalam literatur sejarah klasik Jawa, seperti: “Babad Demak”, “Babad Tanah Djawi”, “Serat Kandha”, dan “Babad Meinsma”.

Lagi-lagi, konflik itu diakibatkan karena persoalan politik. Perseteruan yang terjadi antara para wali itu bisa terjadi, bermula setelah Sultan Trenggono (raja ke-2 Demak) wafat. Giri Kedaton yang beraliran “Islam mutihan” (lebih mengutamakan tauhid) mendukung Sunan Prawata dengan pertimbangan ke-’alimannya. Sementara Sunan Kudus mendukung Aryo Penangsang karena dia merupakan pewaris sah (putra tertua) dari Pangeran Sekar Seda Lepen (kakak Trenggono) yang telah dibunuh oleh Prawata (anak Trenggono). Sedangkan Sunan Kalijaga (aliran tasawuf, abangan) mendukung Joko Tingkir (Hadiwijaya), dengan pertimbangan ia akan mampu memunculkan sebuah kerajaan kebangsaan nusantara yang akomodatif terhadap budaya.

Sejarah juga mencatat, konflik para wali itu “lebih seru” bila dibandingkan dengan konflik ulama sekarang, karena pertikaian mereka sangat syarat dengan intrik politik yang kotor, seperti menjurus pada pembunuhan terhadap lawan politik. Penyebabnya tidak semata karena persoalan politik saja, tapi di sana juga ada hal-hal lain seperti: pergesekan pengaruh ideologi, hegemoni aliran oleh para wali, pengkhianatan murid terhadap guru, dendam guru terhadap murid, dan sebagainya.

Bahkan, De Graaf, seorang sejarawan Jawa dari Belanda, dengan begitu beraninya menilai konflik di antara para wali itu bukan hanya masalah hubungan antara guru dan murid belaka. Bukan pula harus selalu dilihat dari segi spiritualnya, tapi sekolah agama dari para wali itu bisa juga dilihat sebagai sebuah konsentrasi politik. Para wali yang terlibat konflik itu sesungguhnya tidak membatasi diri pada ajaran spiritual saja, tetapi juga memposisikan dirinya sebagai ahli politik sejati, yang (terlalu) banyak ikut campur tangan terhadap persoalan negara. Seperti misalnya, seseorang yang menjadi raja, berhak menyandang gelar “Sultan” bila telah mendapatkan “restu” dari Giri Kedaton. Model pola hubungan ulama-umara seperti ini yang kemudian menjadi benih-benih pertikaian di antara wali sendiri.

Begitupun ketika pusat pemerintahan pindah dari Pajang ke Mataram. Sunan Kudus “berbelok arah” mendukung kubu Demak (Aria Pangiri, putra Sunan Prawata [kubu yang sebelumnya dilenyapkan Arya Penangsang, jagoan Sunan Kudus]) untuk menguasai Pajang, mengusir Pangeran Benawa (putra Sultan Hadiwijaya). Sementara Sunan Kalijaga mendukung keturunan Pamanahan (Ki Gede Mataram) untuk mendirikan kerajaan baru yang bernama Mataram.

Tidak hanya berhenti di situ. Konflik politik para wali itu terus berlanjut hingga akhir hayat mereka. Hingga anak cucu generasi mereka selanjutnya. Dan lebih memprihatinkan lagi, ketika Sunan Amangkurat I (Raja Mataram ke-5, putra Sultan Agung Hanyokrokusumo) membantai secara keji 6000 ulama ahlussunnah wal jama’ah di alun-alun Mataram, dengan alasan “mengganggu keamanan negara”. Ini adalah sebagai bukti adanya imbas yang berkepanjangan dari perseteruan ideologi para wali di era sebelumnya -di samping juga karena faktor politik yang lain. Dan, gesekan-gesekan aliran keagamaan (ideologi) seperti itu, di kemudian hari terus berlanjut, seolah-olah telah menjadi sebuah “warisan” masa kini.


FALSAFAH JAWA



JAWA dan kejawen seolah tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kejawen bisa jadi merupakan suatu sampul atau kulit luar dari beberapa ajaran yang berkembang di Tanah Jawa, semasa zaman Hinduisme dan Budhisme. Dalam perkembangannya, penyebaran islam di Jawa juga dibungkus oleh ajaran-ajaran terdahulu, bahkan terkadang melibatkan aspek kejawen sebagai jalur penyeranta yang baik bagi penyebarannya. Walisongo memiliki andil besar dalam penyebaran islam di Tanah Jawa. Unsur-unsur dalam islam berusaha ditanamkan dalam budaya-budaya jawa semacam pertunjukan wayang kulit, dendangan lagu-lagu jawa , ular-ular ( putuah yang berupa filsafat), cerita-cerita kuno, hingga upacara-upacara tradisi yang dikembangkan,khususnya di Kerjaan Mataram (Yogya/Solo).

Dalam pertunjukan wayang kulit yang paling dikenal adalah cerita tentang Serat Kalimasada (lembaran yang berisi mantera/sesuatu yang sakral) yang cukup ampuh dalam melawan segala keangkaramurkaan dimuka bumi. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa si pembawa serat ini akan menjadi sakti mandraguna. Tidak ada yang tahu apa isi serat ini. Namun diakhir cerita, rahasia dari serat inipun dibeberkan oleh dalang. Isi serat Kalimasada berbunyi "Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan Aku bersaksi Muhammad adalah utusan-Nya" ,isi ini tak lain adalah isi dari Kalimat Syahadat.

Dalam pertunjukan wayangpun sang wali selalu mengadakan di halaman masjid, yang disekelilingnya di beri parit melingkar berair jernih. Guna parit ini tak lain adalah untuk melatih para penonton wayang untuk wisuh atau mencuci kaki mereka sebelum masuk masjid. Simbolisasi dari wudu yang disampaikan secara baik.

Dalam perkembangan selanjutnya, sang wali juga menyebarkan lagu-lagu yang bernuansa simbolisasi yang kuat. Yang terkenal karangan dari Sunan Kalijaga adalah lagu Ilir-Ilir. Memang tidak semua syair menyimbolkan suatu ajaran islam, mengingat diperlukannya suatu keindahan dalam mengarang suatu lagu. Sebagian arti yang kini banyak digali dari lagu ini di antaranya :

Tak ijo royo-royo tak senggoh penganten anyar : Ini adalah sebuah diskripsi mengenai para pemuda, yang dilanjutkan dengan,

Cah angon,cah angon, penekna blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekna kanggo seba mengko sore : Cah angon adalah simbolisasi dari manusia sebagai Khalifah Fil Ardh, atau pemelihara alam bumi ini (angon bhumi). Penekno blimbing kuwi ,mengibaratkan buah belimbing yang memiliki lima segi membentuk bintang. Kelima segi itu adalah pengerjaan rukun islam (yang lima) dan Salat lima waktu. Sedang lunyu-lunyu penekno , berarti, tidak mudah untuk dapat mengerjakan keduanya (Rukun islam dan salat lima waktu) ,dan memang jalan menuju ke surga tidak mudah dan mulus. Kanggo sebo mengko sore, untuk bekal di hari esok (kehidupan setelah mati).

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane : Selagi masih banyak waktu selagi muda, dan ketika tenaga masih kuat, maka lakukanlah (untuk beribadah).

Memang masih banyak translasi dari lagu ini, namun substansinya sama, yaitu membumikan agama,menyosialisasikan ibadah dengan tidak lupa tetap menyenangkan kepada pengikutnya yang baru.

Dalam lagu-lagu Jawa, ada gendhing bernama Mijil, Sinom, Maskumambang, kinanthi, asmaradhana,hingga megatruh dan pucung. Ternyata kesemuanya merupakan perjalanan hidup seorang manusia. Ambillah Mijil,yang berarti keluar, dapat diartikan sebagai lahirnya seorang jabang bayi dari rahim ibu. Sinom dapat di artikan sebagai seorang anak muda yang bersemangat untuk belajar. Maskumambang berarti seorang pria dewasa yang cukup umur untuk menikah, sedangkan untuk putrinya dengan gendhingKinanthi. Proses berikutnya adalah pernikahan atau katresnan antar keduanya disimbolkan dengan Asmaradhana. Hingga akhirnya Megatruh, atau dapat dipisah Megat-Ruh.Megat berarti bercerai atau terpisah sedangkan ruh adalah Roh atau jiwa seseorang. Ini proses sakaratul maut seorang manusia. Sebagai umat beragama islam tentu dalam prosesi penguburannya ,badan jenazah harus dikafani dengan kain putih, mungkin inilah yang disimbolkan dengan pucung (atau Pocong).

Kesemua jenis gendhing ditata apik dengan syai-syair yang beragam, sehingga mudah dan selalu pas untuk didendangkan pada masanya.

Ada banyaknya filsafat Jawa yang berusaha diterjemahkan oleh para wali, menunjukkan bahwa walisongo dalam mengajarkan agama selalu dilandasi oleh budaya yang kental. Hal ini sangat dimungkinkan, karena masyarakat Jawa yang menganut budaya tinggi, akan sukar untuk meninggalkan budaya lamanya ke ajaran baru walaupun ajaran tesebut sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih baik,seperti ajaran agama islam . Sistem politik Aja Nabrak Tembok (tidak menentang arus) diterapkan oleh para sunan.


HASTA BRATA


Dalam budaya jawa sebenarnya sangat sarat dengan filsafat hidup (ular-ular). Ada yang disebut Hasta Brata yang merupakan teori kepemimpinan, berisi mengenai hal-hal yang disimbolisasikan dengan benda atau kondisi alam seperti Surya, Candra, Kartika, Angkasa, Maruta,Samudra,Dahana dan Bhumi.

1. Surya (Matahari) memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan. Pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negaranya.

2. Candra (Bulan) , yang memancarkan sinar ditengah kegelapan malam. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberi semangat kepada rakyatnya ditengah suasana suka ataupun duka.

3. Kartika (Bintang), memancarkan sinar kemilauan, berada ditempat tinggi hingga dapat dijadikan pedoman arah, sehingga seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan bagi untuk berbuat kebaikan

4. Angkasa (Langit), luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya.Prinsip seorang pemimpin hendaknya mempunyai ketulusan batin dan kemampuan mengendalikan diri dalam menampungpendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

5. Maruta (Angin), selalu ada dimana-mana tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat da martabatnya.

6. Samudra (Laut/air), betapapun luasnya, permukaannya selalu datar dan bersifat sejuk menyegarkan. Pemimpin hendaknya bersifat kasih sayang terhadap rakyatnya.

7. Dahana (Api), mempunyai kemampuan membakar semua yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran secara tegas tanpa pandang bulu.

8. Bhumi (bumi/tanah), bersifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada yang merawatnya. Pemimpin hendaknya bermurah hati (melayani) pada rakyatnya untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.

Dalam teori kepemimpinan yang lain ada beberapa filsafat lagi yang banyak dipakai , agar setiap pemimpin (Khususnya dari Jawa) memiliki sikap yang tenang dan wibawa agar masyarakatnya dapat hidup tenang dalam menjalankan aktifitasnya seperti falsafah : Aja gumunan, aja kagetan lan aja dumeh. Maksudnya, sebagai pemimpin janganlah terlalu terheran-heran (gumun) terhadap sesuatu yang baru (walau sebenarnya amat sangat heran), tidak menunjukkan sikap kaget jika ada hal-hal diluar dugaan dan tidak boleh sombong (dumeh) dan aji mumpung sewaktu menjadi seorang pemimpin.Intinya falsafah ini mengajarkan tentang menjaga sikap dan emosi bagi semua orang terutama seorang pemimpin.

Falsafah sebagai seorang anak buahpun juga ada dalam ajaran Jawa, ini terbentuk agar seorang bawahan dapat kooperatif dengan pimpinan dan tidak mengandalakan egoisme kepribadian, terlebih untuk mempermalukan atasan, seperti digambarkan dengan, Kena cepet ning aja ndhisiki, kena pinter ning aja ngguroni,kena takon ning aja ngrusuhi. Maksudnya, boleh cepat tapi jangan mendahului (sang pimpinan) , boleh pintar tapi jangan menggurui (pimpinan), boleh bertanya tapi jangan menyudutkan pimpinan. Intinya seorang anak buah jangan bertindak yang memalukan pimpinan, walau dia mungkin lebih mampu dari sang pimpinan. Sama sekali falsafah ini tidak untuk menghambat karir seseorang dalam bekerja, tapi, inilah kode etik atau norma yang harus di pahami oleh tiap anak buah atau seorang warga negara, demi menjaga citra pimpinan yang berarti citra perusahaan dan bangsa pada umumnya. Penyampaian pendapat tidak harus dengan memalukan,menggurui dan mendemonstrasi (ngrusuhi) pimpinan, namun pasti ada cara diluar itu yang lebih baik. Toh jika kita baik ,tanpa harus mendemonstrasikan secara vulgar kebaikan kita, orang pun akan menilai baik.

Dalam kehidupan umum pun ada falsafah yang menjelaskan tentang The Right Man on the Right Place (Orang yang baik adalah orang yang mengerti tempatnya). Di falsafah jawa istilah itu diucapakan dengan Ajining diri saka pucuke Lathi, Ajining raga saka busana. Artinya harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan sebaiknya seseorang dapat menempatkan diri sesuai dengan busananya (situasinya). Sehingga tak heran jika seorang yang karena ucapan dan pandai menempatkan dirinya akan dihargai oleh orang lain. Tidak mengintervensi dan memasuki dunia yang bukan dunianya ini ,sebenarnya mengajarkan suatu sikap yang dinamakan profesionalisme, yang mungkin agak jarang dapat kita jumpai (lagi). Sebagai contoh tidak ada bedanya seorang mahasiswa yang pergi ke kampus dengan yang pergi ke mal , dan itu baru dilihat dari segi busana/bajunya , yang tentu saja baju akan sangat mempengaruhi tingkah laku dan psikologi seseorang.

Wednesday, February 27, 2008

TIGA DUNIA



Tak banyak orang yang mau peduli dengan alam dan tak banyak orang yang benar-benar tahu tentang alam. Sebenarnya apakah alam itu? Alam bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Atau bisa juga disamakan dengan dunia. Dunia sendiri bisa berarti sebagai bumi dengan segala sesuatu yang terdapat di atasnya, dan juga bisa diartikan sebagai alam kehidupan.

Dunia dalam artian sebagai alam kehidupan bisa dibagi menjadi tiga, yiatu dunia manusia, dunia hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan dunia makhluk halus. Masing-masing dunia memiliki pemimpin/penguasa tersendiri. Dunia manusia dan dunia hewan serta tumbuhan dipimpin oleh manusia sedangkan dunia makhluk halus dipimpin oleh jin/iblis. Tiap-tiap tumbuhan dan hewan memiliki pemimpin dari jenis mereka sendiri namun secara keseluruhan dikendalikan oleh manusia.

Ketiga dunia tersebut menciptakan suatu keseimbangan karena adanya saling ketergantungan dan saling memahami. Dengan adanya keseimbangan tersebut menciptakan keharmonisan kehidupan di dunia secara keseluruhan. Bagaimana jika keseimbangan tersebut hilang? Jawabannya cukup sederhana, KERUSAKAN dan KERASUKAN.

KERUSAKAN dan KERASUKAN tersebut terjadi karena setiap pemimpin dari ketiga dunia tersebut merasa daerah kekuasaannya diintervensi oleh pemimpin dunia lainnya. Banyak contoh yang bisa kita lihat di kehidupan ini tentang kebablasannya para pemimpin ketiga dunia tersebut yang menyebabkan berkurang atau hilangnya keseimbangan. Pemimpin dunia (bangsa) manusia dengan semena-mena mengeksploitasi secara berlebihan alam, tanaman dan hewan untuk kepentingan mereka sendiri.

Akibatnya, KERUSAKAN alam pun tak terhindarkan dan alam menjadi tidak seimbang. Di sisi lain, para bangsa makhluk halus juga terusik dengan tingkah laku manusia tersebut. Tempat tinggal mereka dirasa sudah tidak aman lagi. Hasilnya, mereka pun mencari tempat tinggal baru. Pelarian mereka adalah manusia. Akibatnya, KERASUKAN pun terjadi di mana-mana. Tidak hanya satu atau dua orang saja yang kerasukan, tapi sering terjadi kerasukan masal.

Bagaimana mengembalikan keseimbangan ketiga dunia tersebut? Hal ini sangat membutuhkan kesadaran dan kearifan MANUSIA sebagai pemimpin dari dua dunia. Pembangunan yang dilakukan oleh manusia saat ini bisa dibilang salah cara. Pembangunan seharusnya berprinsip “membangun yang belum ada tanpa merusak yang sudah ada”.

Monday, February 25, 2008

SMS Berhadiah

Banyak sekali kita temui saat ini program SMS berhadiah. Caranya, kita harus ketik .... dan kirim ke nomor tertentu dan pulsa kita pun akan berkurang sektitar Rp 2.000,-. Ini sebenarnya program yang menjebak, karena sama dengan perjudian. Sistem ini sama dengan sistem judi, karena pelanggan/peserta harus menyotor sejumlah uang tertentu kalau kita ingin ikut serta.
Menurut Anda bagaimana????

Saturday, February 23, 2008

Keistimewaan Yogyakarta



Persoalan keistimewaan Yogyakarta mulai muncul pada tahun 2000an. Banyak pihak menafsirkan persoalan ini dari berbagai pihak. Namun, bagi kebanyakan orang keistimewaan Yogyakarta ini cenderung pada persoalan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Beberapa hal yang lain tidak hanya melihat dari sudut itu, tetapi pada segi yang lebih luas, yang mencakup bentuk pemerintahan dan keistimewaan yang lain.

Gubernur DIY yang sekarang, Sri Sultan Hamengkubuwono X, sedang memperjuangkan Keistimewaan tersebut. Banyak pendapat tentang masalah Keistimewaan Yogyakarta ini. Apa pendapat Anda?

Persoalan Gaji

Gaji adalah kompensasi yang diperoleh seseorang atas pekerjaan yang telah dia lakukan. Besarnya gaji sangat bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per bulannya. Besar kecilnya gaji itu saat ini kebanyakan berdasarkan pada tingkat pendidikan, dan sangat sedikit atau bahkan tidak ada yang tergantung pada kemampuan/keterampilan dan pengalaman kerja.

Ini tentu saja kurang begitu adil. Di lihat dari pekerjaan yang dilakukan, suatu posisi pekerjaan akan bisa berfungsi dengan baik jika dipegang atau ditangani oleh orang-orang yang terampil dan berpengalaman, bukan oleh orang yang berpendidikan. Orang yang berpendidikan cenderung hanya menguasai teori, mereka tidak menguasai medan. Walaupun pada kenyataannya teori dan medan/lapangan berkaitan erat, namun orang yang berhasil adalah orang yang lebih menguasai medan, bukan orang yang menguasai teori. Dasarnya adalah bahwa munculnya suatu teori pasti berdasarkan pada medan/situasi yang ada saat itu.

Buktinya adalah bahwa teori selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan yang ada di lapangan. Contohnya adalah teori psikologi perkembangan yang mengenalkan adanya teori behaviorisme, konstruktivisme, dll.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah anda lebih sepakat jika gaji didasarkan pada pendidikan? Atau apakah lebih sepakat jika gaji didasarkan pada pengalaman dan keterampilan?

Ijazah atau Ilmu

Banyak lulusan perguruan tinggi yang sekarang ini menganggur. Mereka sering disebut dengan pengangguran intelektual. Beberapa penyebabnya adalah disiplin ilmu yang tidak sesuai dengan pasar kerja yang ada, rasa gengsi kalau tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmunya, tidak memiliki keterampilan khusus, dan kurang percaya diri.

Pernah diterbitkan disebuat surat kabar sebuah artikel yang menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi, terutama di Yogyakarta, dianggap masih kurang percaya diri sehingga kalah bersaing dengan lulusan perguruan tinggi dari kota lainnya.

Permasalahan yang utama sebenarnya bukan banyaknya pengangguran, tetapi lebih pada pola berfikir para lulusan perguruan tinggi. Sebagian besar lulusan perguruan tinggi berorientasi untuk mencari pekerjaan setelah mereka lulus, bukan untuk menciptakan suatu lapangan kerja sendiri dengan kemampuan dan pendidikan yang dimilikinya.

Sekarang, mengapa orang kuliah? Untuk mencari ilmukah atau untuk sekedar mencari ijazah? Orang yang berorientasi kerja akan cenderung mencari ijazah, sehingga selama kuliah hanya mengenal dunia kampus, perpus, dan kos. Orang yang berorientasi menciptakan lapangan kerja sendiri akan cenderung mencari ilmu dan keterampilan sehingga mereka sering terlibat dalam berbagai kegiatan, mencari pengalaman-pengalaman baru. Dunia mereka cenderung lebih luas daripada mahasiswa yang study oriented. Bagaimana dengan Anda?

Friday, February 22, 2008

HANYA HAYALAN


Lumpur Lapindo sampai saat ini belum bisa teratasi. Pusat semburan belum juga bisa ditutup. Ganti rugi yang dituntut oleh para korban lumpur lapindo juga belum terkabulkan. Pemerintah (termasuk DPR) kelihatannya serius menangani hal ini, tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Pihak Lapindo sendiri serasa berpangku tangan dan mengopinikan bahwa hal itu sebagai salah satu gejala alam (atau mungkin bencana) alam sehingga hal itu bukan tanggung jawab mereka, tetapi tanggung jawab pemerintah. Sayangnya, pemerintah pun terlihat menuruti saja apa kata-kata pihak Lapindo.

Sebenarnya apakah yang terjadi? Lapindo brantas sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang pengeboran telah mendapatkan ijin dalam melakukan pengeboran di Sidoarjo. Berbekal ijin tersebut (entah bagaimana cara pengurusan ijinnya) mereka melakukan pengeboran di daerah Porong, Sidoarjo. Semua prosedur telah dijalankan untuk melakukan pengeboran tersebut. Namun, mereka beranggapan bahwa meniadakan cincin pengeboran masih bisa dianggap aman. Itu pun demi menghemat biaya operasional. Ini karena mereka (Lapindo) benar-benar menerapkan prinsip ekonomi “Dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil/keuntungan yang sebesar-besarnya”.

Namun alam berkata lain, struktur tanah di daerah Porong kurang mendukung prosedur pengeboran tanpa cincin pengeboran. Di samping itu, gempa bumi yang mengguncang DIY-Jateng pada bulan Mei yang lalu juga ikut andil. Getaran gempa bisa saja menggeser pipa pengeboran, walau mungkin hanya 5-10 cm saja. Namun jarak itu tentu saja mengakibatkan hilangnya keseimbangan pipa pengeboran. Ketidakseimbangan dan tekanan yang sangat kuat di dalam pipa pengeboran menyebabkan pipa tidak bisa menahan beban yang ada. Tak ayal, pipa pun jebol dan menyemburlah air menorobos lapisan bumi atas.

Awalnya, semburan itu hanya berupa air garam. Namun, akhirnya semburan air panas itu pun mengikis lapisan tanah sehingga semburan air bercampur dengan lumpur. Setiap harinya beribu-ribu kubik lumpur dihasilkan dari semburan itu. Bisa dibayangkan, kalau lumpur terus-meneur keluar maka bisa dipastikan bahwa volume tanah bagian bawah di sekitar semburan itu telah ‘keropos’. Jadi, bisa diperkirakan bahwa saat ini permukaan tanah di daerah Porong sudah amblas sekitar 50 cm – 150 cm. Apakah akibat selanjutnya?

Amblasnya tanah tentu saja akan menekan air di dalam lapisan tanah bawah sehingga air tersebut cenderung untuk keluar, seperti halnya pada larva gunung berapi yang menyempur ketika tekanan larva naik. Ini tentu saja untuk menjaga keseimbangan tekanan air di dalam tanah. Karena tekanan tanah di sekitar pusat semburan telah meningkat (karena ditambah dengan volume lumpur), maka air tanah tersebut menembus lapisan tanah dengan tekanan yang lebih rendah. Tak heran, sekarang telah muncul beberapa semburan baru yang letaknya agak jauh dari pusat semburan lumpur lapindo.

Jika semburan-semburan baru ini tidak segera di atasi, maka semburan air yang baru itu pun akan menjadi semburan lumpur seperti pusat semburan lumpur yang sebelumnya ada. Jika hal ini terjadi terus-menerus dan tidak segera dihentikan, tak ayal lagi, seluruh Sidoarjo bisa menjadi lautan lumpur dalam waktu 15-25 tahun mendatang.

Melihat hal ini, siapakah yang patut disalahkan? Banyak pihak yang harus disalahkan, termasuk tentu saja pihak Lapindo sebagai pelaksana pengeboran. Lapindo adalah pihak yang paling bersalah dan seharusnyalah mereka yang menanggung semua kerugian karena kelalaian mereka. Pemerintah bersalah dalam hal perijinan dan pengawasan prosedur pengeboran.

Namun, tak ada gunanya membahas siapa yang bersalah. Hal yang lebih penting adalah bagaimana memecahkan persoalan semburan lumpur lapindo yang saat ini sudah dalam taraf krisis. BPLS telah mencoba bebera cara, yang intinya adalah untuk menutu semburan. Usaha itu sangat tepat untuk waktu 5 bulan sejak semburan terjadi. Usaha Relief well hingga saat ini belum menuai hasil. Bahkan ada yang mengusulkan untuk menggunakan bom guna menutup semburan tersebut.

Perlu diingat dan diperhatikan, munculnya semburan baru di beberapa tempat mengindikasikan adanya tekanan berlebih di dalam tanah. Dan semburan lumpur lapindo merupakan salah satu bentuk penyeimbangan tekanan berlebih di dalam tanah tersebut. Semburan baru tersebut muncul karena semburan di pusat semburan lumpur sudah tidak mampu lagi mengakomodasi tekanan yang berlebih di dalam tanah, karena semburan sudah mulai tertutup dengan lumpur.

Mari kita berhayal sejenak berdasarkan asumsi-asumsi berikut ini. Semburan pada mulanya hanyalah semburan air, yang kemudian mengikus tanah sehingga semburan tersebut bercampur lumpur. Lumpur yang terus menyebur mengakibatkan tanah di sekitar semburan mulai ‘keropos’ dan mungkin sudah amblas 50-150 cm. Amblasnya tanah ini menyebakan tekanan air di dalam tanah meningkat tajam sehingga air akan mendorong tanah dengan tekanan yang rendah agar air tersebut mencapai keseimbangan. Akibatnya muncul semburan-semburan baru di beberapa daerah yang agak jauh dari pusat semburan. Semburan baru ini sangat mungkin nantinya bercampur dengan lumpur atau pasir. Adanya kandungan gas yang mudah terbakar dari semburan baru tersebut menunjukkan bahwa air tersebut berasal dari lapisan tanah bawah. Bayangkan kalo pusat semburan di tutup, padahal tekanan air di dalam tanah masih belum stabil. Apa yang akan terjadi? Para ahli geologi tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Namun bagi orang-orang awam, bisa berhayal bahwa penutupan semburan akan memicu timbulnya semburan baru yang lebih banyak. Sidoarjo pun akan terancam menjadi lautan lumpur.

Apa solusinya? Intinya adalah bagaimana menyeimbangkan tekanan air di dalam tanah. Air didalam tanah ibarat kolam-kolam penampungan, jadi sangat memungkinkan ada banyak sekali kolam penampungan air di dalam tanah. Pertama adalah cari kolam penampungan untuk pusat semburan. Setelah itu dilakukan pengeboran di tempat lain pada kolam penampungan itu. Semburan dari pengeboran yang baru dialirkan ke laut. Maka, semburan di daerah porong akan berhenti dengan sendirinya kalu kolam penampungan air di dalam tanah sudah benar-benar kosong.

Memang ini ada risikonya, kekosongan volume kolam tentu saja harus diisi lagi dengan materi lain agar terjadi keseimbangan di dalam tanah. Risikonya adalah amblasnya tanah hingga kedalaman 50 meter di sekitar pusat semburan yang lama. Risiko lainnya adalah masyarakat di sekitar semburan lumpur akan kesulitan untuk mendapatkan sumber mata air. Solusi lainnya adalah dengan melakukan penggalian dari porong ke selat madura yang jarkanya sekitar 13km. Penggalian dengan lebar 50-150 meter dengan kedalaman 50 meter. Tentu saja solusi yang kedua ini memakan banyak biaya, dan Sidoarjo dipastikan akan memiliki teluk yang baru.

Pembagian biaya untuk melaksanakan solusi yang pertama adalah dari Pihak Lapindo. Sedangkan untuk solusi yang kedua bisa ditanggung oleh Lapindo dan Pemerintah. Pemerintah bisa menanggung biaya pembebasan tanah untuk pembuatan ‘teluk’ tersebut sedangkan Lapindo yang menanggung biaya penggalian teluk tersebut, atau sebaliknya.

Sekali lagi, ini hanyalah hayalan dari seorang yang sedang bermimpi tentang keseimbangan.

Tentang Kebenaran


Kebenaran adalah kata yang kerap kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita berbicara tentang kebenaran, maka kita tidak terlepas dengan konsep kesalahan (sesuatu yang dianggap salah). Kebenaran dan kesalahn ibarat dua sisi mata koin, yang meskipun dekat tetapi tidak bisa bertemu. Sesuatu dianggap benar karena tidak salah, dan begitu juga sebaliknya. Adanya konsep kebenaran karena adanya konsep kesalahan. Jadi, jika tidak ada konsep kesalahan, maka tidak akan pernah ada konsep kebenaran.

Sebenarnya, apakah kebenarana itu? Kebenaran bisa diartikan sebagai keadaan (hal) yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya atau sesuatu yang sungguh-sungguh ada. Kebenaran juga bisa diartikan sebagai kelurusan hati atau kejujuran. Dalam hal ini, kebenaran akan diartikan dalam pengertian kelurusan hati.

Secara umum kebenaran bisa dibagi menjadi tiga kategori, yaitu kebenaran menurut diri sendiri, kebenaran menurut orang banyak dan kebenaran yang hakiki. Kebenaran menurut diri sendiri (Jawa: Bener tumrap awake dhewe) menyatakan bahwa segala sesuatu benar menurut orang yang melakukannya. Orang yang menganut pendekatan kebenaran ini cenderung akan egois dan otoriter.

Berdasarkan pendekatan yang kedua, kebeneran menurut orang banyak (Jawa: Bener tumrap wong sakabehane), sesuatu dianggap benar jika kebanyakan orang mengatakan bahwa sesuatu tersebut sesuai dengan apa adanya. Kebenaran ini bisa juga disebut dengan kebenaran kolektif. Kebenaran yang satu ini lebih mementingkan pada kepentingan orang banyak, tidak memperdulikan apakah orang banyak itu benar-benar benar atau karena orang banyak tersebut punya pengaruh. Orang yang mengikuti pendekatan kebenaran ini cenderung lebih demokratis. Implikasi dari adanya pendekatan kebenaran ini adalah munculnya berbagai peraturan tertulis (undang-undang) dan tak tertulis (kesepakatan/konvensi).

Kebenaran yang terakhir adalah kebenaran yang hakiki (Jawa: Benar tumrap laku utama). Kebenaran ini pada umumnya berdasarkan pada wahyu Tuhan. Dasar lainnya adalah ‘hati nurani’ manusia yang terdalam.

Dari ketiga pendekatan kebenaran tersebut, maka sesuatu bisa dianggap benar menurut satu pendekatan dan dianggap salah oleh pendekatan kebenaran lainnya. Sebagai contoh, mencuri bisa dibenarkan menurut kebenaran diri sendiri, tapi dianggap salah menurut kebenaran orang banyak dan kebenaran yang hakiki. Pada hakikatnya semua pencuri mengetahui bahwa mencuri itu bertentangan dengan hati nuraninya. Contoh lainnya adalah membunuh, dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Sementara itu, nikah siri bisa dibenarkan menurut agama karena rukun dan syarat-syarat menurut agama telah terpenuhi. Tetapi hal ini tidak dibenarkan menurut kebenaran orang banyak, terutama menurut undang-undang negara. Menurut undang-undang, nikah siri tidaklah sah.

Gambaran lainnya adalah membunuh musuh negara, atau yang lebih keren lagi adalah membunuh teroris. Hal ini bisa dibenarkan menurut kebenaran diri sendiri, dan kebenaran orang banyak. Namun hal ini tidak sepenuhnya benar menurut pendekatan kebenaran hakiki. Menurut ajaran agama, membunuh tetaplah bersalah, tak peduli apapun alasan atau dasarnya. Ini sama juga dengan membunuh musuh atau penghianat negara. Walaupun sang pembunuh akan dianggap pahlawan oleh negaranya dan oleh orang banyak, namun kalo ditinjau dari agama, sebenarnya dia juga membunuh saudaranya sendiri karena semua orang di dunia ini pada hakikatnya adalah bersaudara.

Begitu juga seorang teroris. Teroris bisa dibenarkan menurut kebenaran diri sendiri (menurut sang teroris sendiri), dan kebenaran orang banyak (yaitu organisasinya). Namun hal itu tidak bisa dibenarkan menurut kebenaran yang hakiki (laku utama). Untuk mengubah sesuatu (seperti yang dikoar-koarkan sebagai tujuan dari terorisme) tidaklah harus dengan kekerasan. Tak satupun dalam ajaran agama yang membenarkan aksi terorisme.

Jadi, bagaimana dengan anda?

Thursday, February 21, 2008

MENANG TANPA NGASORAKE


Ini merupakan salah satu filsafat Jawa yang bisa diartikan sebagai ”Menang tanpa mempermalukan lawan”. Sekilas terlihat bahwa hal ini mudah, tapi dalam kenyataannya sangat jarang bisa kita temui di kehidupan ini. Dalam politik, nuansa yang dibangun adalah bagaimana bisa memenangkan sesuatu dengan menempuh segala cara, termasuk menyebarkan fitnah dan hasutan sehingga publik berpandangan negatif terhadap lawan politiknya.

Tak hanya di dunia politik saja. Di dunia kerja dan bahkan di dunia pendidikan pun, semangat untuk menjatuhkan lawan atau teman sendiri pun kerap kita jumpai. Makanya, tak jarang kita melihat guru yang menjelakkan guru lain di depan anak didiknya. Tak jarang juga ada seorang pegawai yang menjelek-jelekkan teman sendiri di depan atasannya.

Yang paling parah adalah jika hal ini terjadi di antara para pemimpin bangsa, para ketua lembaga tinggi negara, dan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya. Saling lempar tanggung jawab dan kesan meremehkan atau merendahkan pimpinan lembaga lainnya merupakan bukti dari semua ini. Bisa kita bayangkan, kalau seluruh pemimpin bangsa ini melakukan hal itu, tanpa mengindahkan pepatah ‘menang tanpa ngasorake’ akan seperti apa bangsa ini. Apakah akan seperti pada masa pemerintahan demokrasi terpimpin? Di mana banyak partai yang saling menjatuhkan partai lain demi kemenangan partainya sendiri.

Ditinjau dari sisi lainnya, pepatah ‘menang tanpa ngasorake’ mengandung implikasi bagaimana kita bisa mencari win-win solution. Dalam artian kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa mengambil hak lawan atau tanpa membuat lawan merasa malu dan kalah. Sudah saatnya para pemimpin bangsa ini mulai sadar bahwa ada hal lain yang lebih penting daripada bagaimana mereka harus membuat diri mereka menang dengan menghalalkan berbagai cara.

Wednesday, February 20, 2008

Pramuka Riwayatmu Kini


Ketika kita mendengar kata Pramuka, bayangan kita langsung tertuju pada setiap orang yang memakai baju coklat muda dan celana/rok coklat tua dengan stangen leher (handsduk) warna merah putih dengan dilengkapi tutup kepala. Sangat jarang di antara kita yang ketika mendengar kata pramuka akan langsung terbayang satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia.

Pendapat kebanyakan orang yang bisa kita temukan adalah bahwa pramuka identik dengan kegiatan di alam, kemah, dll. Pandangan kurang baiknya adalah bahwa pramuka identik dengan kegiatan menyanyi dan tepuk tangan layaknya anak-anak TK. Kedua pandangan tersebut tidaklah salah karena memang hal itu memang benar-benar terjadi.

Dilihat dari sejarah singkatnya, organisasi kepanduan Pramuka diresmikan pada tahun 1960an dan merupakan satu-satunya gerakan kepanduan yang diakui di Indonesia. Pramuka sebenarnya kependekan dari PRAja MUda KArana yang secara harfiah bisa diartikan sebagai rakyat muda yang berkarya. Dalam organisasi Pramukan tentu saja ada berbagai sistem dan aturan yang berlaku. Untuk lebih jelasnya liat sendiri ja di AD/ART dan peraturan-peraturan tentang kepramukaan.

Lain dulu lain sekarang. Mungkin itu ungkapan yang tepat untuk gerakan kepanduan ini. Dulu, gerakan ini bisa dianggap berhasil dalam membentuk watak para generasi muda melalui pendidikan kepanduan yang ada, dari tingkat Siaga hingga pandega. Tak heran, banyak orang yang aktif di organisasi ini pada akhirnya menjadi orang yang berhasil. Mengapa? Hal ini karena pramuka mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan (dalam artian bagaimana kita bisa hidup di masyarakat dan bagaimana kita harus bertingkah laku di dalam masyarakat) yang tidak diterima di jalur pendidikan formal (sekolah).

Sehingga tak diragukan lagi bahwa orang-orang yang aktif di dalam gerakan kepanduan ini memiliki social intelligence yang bagus. Hasilnya, mereka bisa berhasil dalam pergaulan di masyarakat.

Itu dulu, bagaimana dengan sekarang? Apakah pramuka masih bisa memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi para anggotanya? Sekarang kita mungkin menyangsikan hal itu. Saat ini Pramuka lebih cenderung dilihat sebagai organisasi dengan kegiatan yang hanya nyanyi-nyanyi dan tepuk tangan saja, tak jauh beda dengan anak-anak TK.

Dibeberapa sekolah, Pramuka hanyalah sebuah ekstrakurikuler yang keberadaannya hanya sekedar untuk menggugurkan kewajiban saja. Buktinya, banyak kegiatan pramuka di sekolah yang tidak dikelola dengan baik. Banyak Pembina pramuka yang sebenarnya tidak tahu betul apa itu pramuka. Hal itu wajar karena para pembina tersebut kebanyakan belum pernah mengikuti Kursus Pembina.

Ditinjau dari kepengurusan Dewan Kerja, beberapa atau mungkin banyak anggota dewan kerja, baik dari tingkat nasional bahkan sampai tingkat gugus depan, yang tidak mengetahui fungsi dan tugas dewan kerja. Tak heran jika kita menemukan anggota dewan kerja yang tidak memenuhi persyaratan. Contoh sederhananya, banyak kita temui anggota dewan kerja di tingkat gugus depan yang tidak mengetahui perbedaan antara Ketua Dewan Ambalan (di tingkat Penegak) dan Pradana. Kedua posisi tersebut sebenarnya mempunyai fungsi yang berbeda, walaupun pada kenyataannya yang menjabat satu orang (mirip dengan jabatan Rektor dan Ketua Senat yang pada beberapa perguruan tinggi dijabat oleh satu orang).

Sebagai penutup, dulu banyak orang yang bangga dengan menjadi anggota gerakan Pramuka. Bangga memakai pakaian pramuka lengkap dengan atribut-nya. Namun sekarang, justru banyak orang yang merasa malu memakai pakaian pramuka lengkap. Tugas dari para Pengurus gerakan Pramuka adalah bagaimana mengembalikan rasa bangga terhadap pramuka ini. Mengenai bagaimana caranya, seorang pramuka sejati pasti bisa menemukan jalannya.

Tuesday, February 19, 2008

My Eve

Dialah sosok yang mewarisi sifat/karakter orang-orang terdekat ku. Dia sosok yang mewarisi keteguhan dan keangkuhan Sang Kuning. Dialah sosok yang mewarisi imut dan menggemaskannya Sang Little Star. Dialah sosok yang mewakili cantik dan anggunnya Sang Putih (Denox). Dan dialah sosok yang mewakili ndutnya Sang Big Star.

Dialah My EVE.

Dialah the best i ever have....

Dear My Eve

Dear My Eve,

Eve, sudah aku katakan dari dulu bahwa aku ini belum begitu bisa memahami perempuan, termasuk dirimu. Aku masih bingung dengan apa yang kamu inginkan. Ketika kamu meminta kepastian, aku pun sudah memberikannya.

Dan sekarang, mengapa kau hanya diam? Tidak bisakah kau mengungkapkan apa yang kau inginkan sekarang? Apakah dirimu tidak mau tahu apa yang aku inginkan? Aku hanya menginginkan kepastian, sama seperti yang kau inginkan.

Bisakah kamu memberikannya?

Memang, kita sama-sama tahu bahwa kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, lusa, 1 minggu, 1 bulan, atau 1 tahun yang akan datang, hanya Tuhanlah yang tahu. Tapi, apakah salah kalau kita sudah mulai merencanakan? Apakah salah kalau kita membuat sebuah komitmen?

Atau, jangan-jangan kau masih meragukan keyakinan ku. Kalau memang begitu, katakan sesuatu yang bisa membuat mu yakin bahwa aku memang benar-benar sudah yakin dan mantap dengan pilihan ku, yaitu kamu, hanya kamu.

Eve, bagi ku diam bukan berarti mengiyakan. Jadi, katakanlah, IYA atau TIDAK, itu saja.

Q tunggu kabar darimu......

Pilih Jadi Pacar atau Teman?

Amelia Ayu Kinanti - detikHot

Jakarta, Sahabat biasanya menjadi teman berbagi dalam suka dan duka. Kedekatan dengan sahabat biasanya tak lagi terukur. Namun bagaimana bila perasaan tersebut berubah menjadi cinta. Ini tipsnya

1. Galilah secara mendalam perasan Anda. Apakah benar yang dirasakan cinta atau hanya emosi sesaat saja. Tahapan ini paling penting, karena menentukan langkah Anda berikutnya

2. Jika ternyata hal itu hanyalah emosi sesaat, secepatnya pulihkan perasaan Anda.
Aturlah agar hubungan dengan sahabat kembali seperti semula.

3. Namun jika ternyata itu benar perasaan cinta, maka masih banyak yang harus Anda persiapkan. termasuk strategi utnuk meyampaikan perasaan Anda terhadap sahabat. Ingat, risikonya sunguh besar, karena bisa saja Anda kehilangan hubungan persahabatan yang telah terjalin lama.

4. Cari tahu apa yang membuat perasaan Anda berubah padanya. Penampilankah atau memang dia orang yang Anda idaman selama ini, namun tidak disadari. Jika memang alasannya cukup kuat, maka jangan ragu untuk menyampaikan perasaan Anda.

5. Ajak sahabat yang lain untuk bertukar pilihan, agar Anda dapat mendapatkan gambaran yang obyektif mengenai situasi ini.

6. Jangan lupa untuk mempertimbangkan perasaan sahabat Anda.

Monday, February 04, 2008

PELANGGARAN MARKA JALAN




Bisa diyakini bahwa banyak pengguna jalan yang tidak mengetahui ‘marka jalan’, fungsi dan aturan yang berkaitan dengannya. Marka memang kadang hal yang sangat sepele bagi beberapa orang. Namun sebenarnya marka mempunyai fungsi yang sangat besar terutama dalam kaitannya dengan keselamatan lalu lintas.

Dengan adanya marka, para pengguna jalan bisa mengetahui kapan dia bisa mendahului kendaraan lain dengan aman. Dalam kondisi hujan atau di malam hari, marka jalan yang reflektif bisa membantu pengguna jalan mengetahui batas tepi dan batas tengah jalan, sehingga pengguna jalan tidak terlalu ke tepi dan tidak terlalu ketengah. Hal ini tentu saja akan sangat berguna dalam mengurangi risiko kecelakaan.

Namun, sayangat disayangkan bahwa banyak pengemudi di Indonesia yang kurang memperhatikan marka jalan tersebut. Di samping kurangnya pengetahuan tentang marka jalan, marka yang kurang begitu terlihat atau tidak begitu jelas juga berpengaruh terhadap hal ini. Tak heran, banyak pelanggaran terkait dengan marka jalan ini.

Hal yang sederhana bisa kita lihat ketika di persimpangan dengan lampu merah. Kita akan bisa melihat banyak pengendara yang melanggar marka. Tindakan mereka itu jelas membahayakan diri mereka dan pengendara lain karena tindakan mereka tersebut telah mempersempit jalur dari arah yang berlawanan.

SEMAR MBANGUN KAYANGAN


SEMAR MBANGUN KAYANGAN

Bagian 1
Di pagi buta di Desa Karang Kabulutan, Semar terlihat murung dan bingung. Dari wajahnya terlihat bahwa dia sedang memikirkan sesuatu, sesekali nampak kepalanya digeleng-gelengkan sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang dia cemaskan.

Beberapa saat kemudian, Petruk terbangun dan heran melihat Semar yang sedang murung dan bingung. Petruk ingin menyapa Semar, tapi dia takut kalau Semar marah sama dia. Akhirnya dia beranikan diri menyapa semara:
Petruk : “Bapak... ada apa bapak. Dari tadi saya lihat bapak termenung, seperti bingung memikirkan sesuatu. Ada apa bapak? Apa yang terjadi?”
Semar masih belum merespon. Dia tetap termenung dan terlihat memikirkan sesuatu. Petruk pun kembali bertanya.
Petruk : “Bapak.... ada apa? Apa yang terjadi? Apa aku, Kang Gareng dan Bagong bersalah sama bapak? Atau ada hal lain yang membuat bapak bingung?”
Semar pun masih terdiam, seperti tidak memperhatikan kehadiran Petruk.
Petruk : “Baiklah kalau begitu... Kalau bapak tidak mau bercerita apa yang terjadi, tidak apalah... Saya ke belakang dulu ya bapak?”
Petruk lalu hendak melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum dia melangkah Semar tiba-tiba berkata,
Semar: “Tole... bapak tidak apa-apa. Bapak hanya khawatir dengan nasib negara Amarta. Hati bapak gundah memikirkan nasib Pandawa. Ada sesuatu hal yang mengganjal di hati bapak... tapi bapak tidak bisa mengatakannya. Petruk... bapak ingin agar kamu pergi ke Amarta, menemui punggawa-punggawa Amarta. Lantas, sampaikan kepada mereka kalau bapak ingin pinjam 3 pusaka Amarta, Jimat Kalimasada, Payung Kencana dan Tombak..... untuk membangun kayangan. Satu lagi Petruk, sampaikan kepada semua Pandawa untuk segera datang ke Karang Kabulutan. Segera berangkat Petruk... Restu bapak menyertaimu.
Petruk pun meminta restu dari Semar dan langsung berangkat tanpa membawa bekal apapun. Perjalanan dari Karang Kabulutan hingga ke Kerajaan Amarata ditempuh selama 2 hari dua malam tanpa istirahat. Petruk pun sampai di Kerajaan Amarta dan langsung menghadap Raja Amarta.

Di singgasana, Raja Amarta (Yudhistira/Puntadewa) sudah duduk di sana. Tak lupa para penggede Amarta (termasuk Pandawa) sudah hadir di sana, di antaranya Bima, Nakula, Sadewa, Janaka, Krisna, Kunthi, Gatotkaca, Antareja.

Tak lama berselang, Petruk menghadap Yudhistria. Terlebih dahulu dia menyampaikan rasa baktinya kepada para penggede Amarta yang sebenarnya adalah momongan dia, tapi Petruk menyebut mereka majika (Ndara).

Petruk pun menyampaikan maksud kedatangnnya ke Amarta, bahwa dia disuruh Semar untuk Pinjam Tiga Pusaka untuk membangun Kayangan dan meminta semua Pandawa untuk datang ke Karang Kabulutan. Yudhistira adalah raja yang bijaksana. Dia meminta pendapat para penggeda Amarta yang hadir di situ, termasuk Krisna.

Krisna sebagai orang yang dituakan di Amarta memberikan pendapatnya. Dia tidak setuju dengan rencana Semar yang ingin membangun kayangan. Dalam pengertian dia, ‘kayangan’ yang akan dibangun oleh Semar adalah kayangan “suroloyo”. Hal ini bertentangan dengan kodrat semar di turunkan ke dunia. Niat Semar membangun kayangan “suroloyo” jelas tidak akan disetujui oleh para dewa di kayangan. Kemudian menurut Krisna, Pandawa di suruh datang ke Karang Kabulutan adalah untuk membantu Semar jika ada serangan dari kayangan dengan memberikan perlindungan. Krisna menekankan kembali bahwa niat Semar untuk membangun kayangan adalah salah, dan tindakan Semar harus diluruskan kembali.

Petruk kurang begitu senang dengan pendapat Krisna. Menurut Petruk niat Semar untuk membangun kayangan adalah baik. Hingga saat ini pun Semar tidak pernah melakukan hal-hal yang negatif. Selain itu, Krisna juga bukan raja di Amarta, jadi Krisna tidak berhak memberikan keputusan tidak diijinkannya semar pinjam ketiga pusaka atau tidak.

Bantahan Petruk tentu saja membuat Krisna marah. Krisna menganggap bahwa punakawan hanyalah ‘babu’ atau kasarnya “gedhibal pitulikur”. Omongan Krisna jelas membuat Petruk marah. Meskipun punakawan hanyalah ‘babu’, namun perlu diingat bahwa yang merawat pandawa dari kecil hingga dewasa adalah punakawan. Dan perlu juga diingat bahwa mereka bisa menjadi raja karena adanya dukungan dari orang-orang kicil. Jadi ketika mereka sudah berkuasa, sudah seharusnyalah mereka mengingat orang-orang kecil. Bukan menjadikan orang kecil sebagai “gedhibal pitulikur” atau diibaratkan seperti keset.

Melihat hal itu, Yudhistira mencoba melerai. Dia meminta Petruk untuk keluar sebentar dari ruang utama dan di suruh menunggu di luar hingga Raja Amarta memberikan keputusan. Petruk pun patuh dengan perintah Yudhistira.

Krisna masih bersikukuh dengan pendapat dia, bahwa rencana Semar untuk membangun kayangan adalah salah. Krisna bahkan langsung menyuruh Gatotkaca, Janaka dan Antareja untuk mengusir petruk atau jika perlu membunuhnya. Mereka pun menuruti apa yang diperintahkan Krisna. Setelah ketiganya keluar, Krisna pun mengikuti keluar.

Yudhistira tak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Dia bingung mana yang benar, Semar ataukah Krisna. Sadewa (salah satu dari Pandawa dan juga merupakan anak Bima) pun angkat bicara. Sadewa terkenal sebagai sosok yang cerdas dan teliti. Meskipun dia masih muda, tapi kepintarannya bagaikan seorang resi saja. Menurut Sadewa, yang dimaksud ‘kayangan’ oleh semar bukan hanya kayangan ‘suroloyo’. Hati/perasaan semar sebenarnya juga kayangan. Jadi yang ingin di bangun adalah hatinya semar, yang pada akhirnya juga akan membangun kekuatan pandawa.

Sadewa memberikan saran kepada Yudhistira bagaimana cara membuktikan siapa yang benar, Semar atau Krisna. Dia menyarankan agar para penggede Amarta bersemedi di depan kamar penyimpanan ketiga pusaka tersebut. Jika setelah semededi tersebut ketika pusaka masih tetap di tempatnya, maka Krisna yang benar. Namun, jika ternyata ketiga pusaka tersebut ‘jengkar’ dari tempatnya, maka Semar yang benar.

Bima menyetujui usulan Sadewa. Dia mengakui walaupun Sadewa masih muda, tapi pertimbangan yang disampaikan Sadewa sangat tepat. Akhirnya para penggede Amarta mengikuti saran Sadewa. Mereka berangkat untuk bersemedi di depan tempat penyimpanan ketgka pusaka tersebut.

Sesampainya di tempat penyimpanan ketiga puska tersebut, mereka bersemedi, memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Beberapa saat setelah mereka bersemedi, tiba-tiba ketiga pusaka tersebut terbang ke angkasa dan melesat ke arah desa Karang Kabulutan. Sekarang mereka tahu bahwa Semarlah yang benar.

Sadewa kemudian menyarankan agar mereka langsung berangkat ke Karang Kabulutan, tetapi melalui pintu belakang, sehingga Krisna tidak tahu kalau mereka sudah berangkat ke Karang Kabulutan.

Sementara itu di depan istana, petruk bertemu dengan Antasena (salah satu anak Bima yang bertubuh ular). Petruk menyampaikan baktinya kemudian menyampaikan tujuan kedatangannya ke Amarta. Dia juga bercerita semua yang baru saja terjadi di dalam istana. Antasena sebenarnya sosok yang kurang begitu waras, tetapi kadang-kadang pemikirannya bagus. Dia menanyakan kondisi Semar saat ini. Petruk bercerita pun bagaimana keadaan Semar. Semar sekarang bertingkah aneh, sering murung, dan kadang-kadang suka berbisik-bisik dengan Abimanyu. Semar sekarang ‘idu geni’ (maksudnya kali ada orang yang sakit, semar cukup meludah dan orang itu pun akan sembuh).

Antasena menilai bahwa apa yang dilakukan Semar itu benar. Selain itu, Antasena meyakinkan Petruk bahwa nanti akan ada yang memberikan keterangan atau jawaban atas permintaannya kepada Raja Amarta. Dia pun bersedia membantu Petruk kalau nanti ada penggede Amarta yang ingin mencelakakan dia. Antasena kemudian menyatu dengan tubuh Petruk.

Beberapa saat kemudian Gatotkaca, Antereja dan Janaka menemui Petruk. Mereka hendak menangkap Petruk dan memasukkannya ke dalam penjara. Bahkan mereka tidak segan untuk membunuh Petruk jika dia melawan.

Petruk yang sudah dibentengi oleh Antasena tidak merasa takut, di samping dia pun merasa apa yang dilakukan semar tidak salah. Yang pertama kali melawan Petruk adalah Gatotkaca. Dia langsung memegang kepala Petruk dan hendak memutar lehernya hingga patah. Namun Petruk tidak kalah akal, dia memutar tubuhnya searah dengan putaran kepadanya, sehingga lehernya tidak patah. Justru malah petruk bisa memegang tangan Gatotkaca dan melemparkannya hingga jatuh di depan Arjuna.

Arjuna pun tak tinggal diam. Dia langsung menyerang Petruk. Namun Petruk yang sudah di-back up oleh Antasena mengeluarkan semburan api yang sebenarnya merupakan jurus Antasena. Janaka pun tersungkur. Antareja yang melihat kekalahan Gatotkaca dan Janaka tak bisa hanya melihat saja. Dia langsung mengeluarkan semburan dan dibalas dengan semburan oleh Petruk. Semburan api keluar dari kedaunya. Antarena tak bisa bertahan lama, semburan apinya bisa dikalahkan oleh Petruk. Ketiganya lalu kabur dan hendak melapor ke Krisna.

Setelah aman, Antasena keluar dari tubuh Petruk. Tiba-tiba muncul empat sosok yang tidak dikenal. Antasena menjelaskan bahwa keempatnya adalah penjelmaan dari ketiga pusaka Amarta (yaitu Jimat Kalimasada, Tumbang Korowelang dan Songsong Tunggul Naga) dan senjata Cakra (senjatanya Krisna). Antasena menjelaskan bahwa ketiganyalah yang akan memberikan keterangan atau jawaban atas permintaannya pada raja Amarta. Dia pun menyuruh petruk untuk segera pulang, karena penggede Amarta juga dalam perjalanan ke desa Karang Kabulutan.

.........................................................................

Bagian 2

ARTI SENGKALAN

Sengkalan.
Deretan kata berupa kalimat atau bukan kalimat yang mengandung angka tahun, dan disusun dengan menyebut lebih dahulu angka satuan, puluhan, ratusan, kemudian ribuan. Kata-kata yang terdapat dalam sengkalan bukan sembarang kata yang disusun, melainkan dipilih sesuai dengan angka tahun. Deretan kata sengkalan selain sebagai simbol angka tahun juga merupakan simbol konsep-konsep magis tradisional dalam kepercayaan masyarakat. Simbol-simbol ini dapat dipahami maknanya jika dianalisis secara semiotik. Simbol nilai kata yang terdapat dalam sengkalan ada yang langsung menunjukkan angka, tetapi ada juga yang secara tidak langsung menunjukkan angka karena nilai angka tersembunyi dan harus ditelusuri asal mulanya. Biasanya nilai angka yang tersembunyi merupakan kosa kata serapan dari bahasa Sansekerta.
Kata sengkalan secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Sakakala yang berarti tahun Saka. Saka adalah nama bangsa dari India yang pernah datang ke pulau Jawa dan mengajarkan bermacam-macam ilmu pengetahuan, diantaranya huruf Jawa dan sengkalan. Tahun Saka dimulai ketika Raja Saliwahana atau Ajisaka naik tahta pada tahun 78 Masehi. Sengkalan dalma bahasa asing disebut chronogram (kronogram) yang berasal dari bahasa Yunani chronos yang berarti waktu dan gramma yang berarti huruf atau aksara. Sengkalan berdasarkan bentuknya ada tiga macam, yaitu sengkalan lamba, sengkalan memet, dan sengkalan sastra. Namun jika berdasarkan jenisnya, sengkalan ada dua macam, yaitu suryasengkala dan candra sengkala.

SENGKALAN

Sengkalan Lamba. Sengkalan yang menggunakan rangkaian kata.
Sengkalan Memet. Sengkalan yang menggunakan lukisan.
Sengkalan Sastra.
Sengkalan yang menggunakan huruf Jawa dan sandangannya biasa digunakan pada ukir-ukiran, hiasan keris, dan lain sebagainya.
Suryasengkala.
Sengkalan yang menunjukkan angka tahun berdasarkan perputaran matahari. Sengkalan Suryasengkala digunakan pada masa pra-Islam dengan menggunakan tahun Saka. Namun saat ini Suryasengkala jarang digunakan, karena sengkalan yang dibuat tergantung pada kebutuhan, misalnya sengkalan dengan menggunakan tahun Masehi.
Candrasengkala.
Sengkalan yang menunjukkan angka tahun berdasarkan peraturan bulan. Sengkalan Candrasengkala digunakan setelah masa Islam dengan memakai tahun Jawa. Tahun Jawa ditetapkan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma sejak 1 Suro 1555 Jawa, bertepatan 1 Muharam 1043 Hijriah, atau 1 Srawana 1555 Saka, atau 8 Juli 1633 Masehi. Tahun Jawa merupakan perpaduan antara Tahun Hijriah dengan tahun Saka. Pada zaman sekarang sengkalan dapat menggunakan tahun Jawa, Saka, Hijriah atau Masehi tergantung pada sengkalan yang diperlukannya.
Candrasengkala Gancaran, Serat.
Buku sastra disusun oleh Panitia Kapujanggan Keraton Yogyakarta. Buku ini hanya membahas mengenai masalah nilai kata dengan menyertakan cara membuat sengkalan.
Gurudasanama.
Ketentuan dalam penggunaan kata-kata pada sengkalan dengan cara menggunakan sinonim atau dasar padanan kata. Hal ini dimaksudkan karena kata-kata dalam yang bernilai kata sering menyimpang dari kata pokok (mengalami perubahan).
Gurusastra.
Cara menentukan perubahan atau penurunan kata yang digunakan pada sengkalan dengan memakai homograf atau dasar penulisan yang sama. Ketentuan ini ada, katena kata-kata di dalam sengkalan yang bernilai kata sering menyimpang dari kata pokok sehingga mengalami perubahan arti.
Guruwanda.
Cara menentukan perubahan atau penurunan kata yang digunakan pada sengkalan dengan memakai dasar sesuku kata. Ketentuan ini dibuat untuk memberi dasar penggunaan kata-kata dalam sengkalan, karena kata-kata di dalam sengkalan yang bernilai kata sering menyimpang dari kata pokok sehingga mengalami perubahan arti.
Guruwarga.
Cara menentukan perubahan atau pernurunan kata yang digunakan pada sengkalan dengan memakai dasar sekaum. Ketentuan ini dibuat untuk memberi dasar penggunaan kata-kata dalam sengkalan, karena kata-kata di dalam sengkalan yang bernilai kata sering menyimpang dari kata pokok sehingga mengalami perubahan arti.
Gurukarya.
Cara menentukan perubahan atau penurunan kata yang digunakan dengan memakai dasar sekerja. Ketentuan ini dibuat untuk memberi dasar penggunaan kata-kata dalam sengkalan, karena kata-kata di dalma sengkalan yang bernilai sering menyimpang dari kata pokok sehingga mengalami perubahan arti.
Gurusarana.
Cara menentukan perubahan atau penurunan kata yang digunakan pada sengkalan dengan memakai dasar sealat. Ketentuan ini dibuat untuk memberi dasar penggunaan kata-kata dalam sengkalan, karena kata-kata di dalam sengkalan yang bernilai kata sering menyimpang dari kata pokok sehingga mengalami perubahan arti.
Gurudarwa.
Cara menentukan perubahan atau penurunan kata yang digunakan pada sengkalan dengan memakai dasar sekeadaan atau dalam satu keadaan yang sama. Ketentuan ini dibuat untuk meberi dasar penggunaan kata-kata dalam sengkalan, karena kata-kata di dalam sengkalan yang bernilai kata, sering menyimpang dari kata pokok sehingga mengalami perubahan arti.
Gurujarwa.
Cara menentukan perubahan atau penurunan kata yang digunakan pada sengkalan dengan memakai dasar searti atau arti yang sama. Ketentuan ini dibuat untuk memberi dasar penggunaan kata-kata dalam sengkalan karena kata-kata di dalam sengkalan yang bernilai kata, sering menyimpang dari kata pokok sehingga mengalami perubahan arti.
Sengkalan Angka Nol.
Angka nol dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang berarti hilang atau segala sesuatu yang tidak ada. Pada sengkalan hanya ada satu kata yang bernilai nol atau kosong, yaitu kata umbul (melesat ke atas) karena segala sesuatu yang telah hilang bernilai nol. Misalnya sengkalan tentang pelaksanaan sekaten tahun 1990, “umbuling puspa gapuranin praja”.
Sengkalan Angka Satu.
Angka satu di dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang bermakna satu, kata-kata yang bermakna jumlahnya hanya satu, benda yang bentuknya bulat, kata-kata yang berarti manusia, kata-kata yang berarti hidup dan nyata. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai satu adalah jalma, jalmi, janma, kenya, putra, aji, ratu, raja, nata, narpati, narendra, pangeran, gusti, Allah, hyang, maha, bathara, bumi, jagat, budi, buda, budaya, ron, lata, wani, semedi, luwih, nabi, lajer, wiji, witana, praja, bangsa, swarga, puji, piji, harja dan peksi. Kata peksi bernilai satu, namun sebenarnya bernilai dua, karena peksi berasal dari kata peksi (sansekerta) yang berarti burung atau binatang yang bersayap.
Sengkalan Angka Dua.
Angka dua di dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang mempunyai makna berjumlah dua, atau berpasangan dan bentuk-bentuk turunannya, serta kata-kata yang bermanka gandheng. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai dua, biasanya digunakan kata asta, dwi, kembar, ngelmi, aksa, samya, sembah dan supit.
Sengkalan Angka Tiga.
Angka tiga dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang mempunyai makna berjumlah tiga, dan bentuk-bentuk turunannya. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai tiga, biasanya digunakan kata guna, katon, saut, sunar, trima, trisula, ujwala, dan wredu.
Sengkalan Angka Empat.
Angkat empat dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang berarti air dan kata-kata yang berarti kerja, serta segala sesuatu yang berjumlah empat. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai empat ialah kata papat, catur, keblat (arah mata angin), warna (kasta dalam agama Hindu), toya (air), suci dan pakarti.
Sengkalan Angka Lima.
Angka lima dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang mempunyai makna berjumlah lima, golongan raksasa, segala macam senjata, kata-kata yang berarti angin, tajam, ilham atau bisikan, perangkap, serta kata-kata yang mempergunakan kata panca. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai lima ialah driya (indra), wisaya (cerapan indra), cakra, warayang, tinulup, ati, linungit, yaksa, mangkara, marganing, pasarean, tinata, gati dan pirantining.
Sengkalan Angka Enam.
Angka enam dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang berarti rasa, hewan berkaki enam, dan segala sesuatu yang bergerak. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai enam ialah kat gana, hangga-hangga, (laba-laba), rasa, sinesep, nikmat, kayu, winayang (digerakkan), rebah (runtuh) dan wisik (pesan).
Sengkalan Angka Tujuh.
Angka tujuh dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang mempunyai arti golongan pertapa atau pendeta, gunung, suara, serta binatang yang biasa dipergunakan untuk kendaraan. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai tujuh ialah kata pandhita, resi, swara, sabda, muji (pujian, restu, ajar) dan giri (gunung).
Sengkalan Angka Delapan.
Angka delapan dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang berarti gajah, binatang melata, dan brahmana. Kata-kata pada sengkalan yang bernilai delapan adalah kata ngesti (memikirkan), madya (tengah), basuki, naga, brahmana, manggala, murti, salira, sarining, dan kata-kata turunan dari kata-kata tersebut.
Sengkalan Angka Sembilan.
Angka sembilan dalam sengkalan disimbolkan dengan kata-kata yang mempunyai arti dewa, bunga dan benda-benda yang berlubang atau terbuka. Kata-kata pada sengkalan yang biasanya digunakan untuk menyatakan angka sembilan ialah : kata, trus, trustaning, wiwara, anggatra, gapura, ambuka, makaring, umanjing, sekaring, puspa, kusuma, kembang, dan ngarumake (mengharumkan).