Monday, October 20, 2008

Kalau Bagong Jadi Presiden (Bag. 4)

Sejak pertemuan keluarganya terdahulu, Bagong terus memikirkan apa yang akan dilakukannya. Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah 36 hari terlewatkan. Dengan keinginan kuatnya yang diiringi dengan laku prihatin yang sungguh-sungguh, Bagong sudah mulai mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul dibenaknya. Di antara pertanyaan tersebut adalah Mengapa orang-orang menginginkan Bagong menjadi Presiden? Apakah Bagong akan menerima amanah untuk menjadi Presiden? Jika iya merasa bisa dan mampu, maka dengan media apakah dia akan menerima amanah tersebut?

Satu persatu pertanyaannya mulai terjawab. Pertama, mengapa orang-orang menginginkan Bagong menjadi Presiden? Bagong mulai sadar bahwa negeri ini sudah mengalami krisis moral, dimana yang benar bisa menjadi salah dan sebaliknya. Banyak orang-orang jujur yang justru tersungkur, dan banyak orang-orang pendusta yang justru berkuasa. Bagong juga sadar bahwa selama ini dia memang sering ceplas-ceplos. Tapi ceplas-ceplosnya itu bukan tanpa dasar, bukan karena dia hanya ingin mendapatkan ketenaran. Tapi karena itu memang uneg-uneg yang ada dihatinya. Sederhananya, semua ucapan Bagong hingga saat ini didasari oleh rasa kejujuran, kerendahan hati, dan tanpa rasa adigang, adigung dan adiguna. Mungkin rakyat Negeri Impian ini sudah bosan dengan pemimpin yang hanya bisa ngomong, hanya bisa mencari ketenaran demi menjaga reputasinya, menutupi segala kekurangan di negeri ini demi menjaga nama baik dimata dunia. Rakyat negeri impian ini memimpikan seorang pemimpin yang jujur, apa adanya, mau mendengarkan rakyatnya, dan tidak segan-segan untuk melihat rakyatnya secara langsung. Pemimpin yang mampu menerapkan filosofi HASTA BRATA.

Kedua, Apa Bagong mau menerima amanah tersebut? Walaupun dia hanyalah orang kecil, namun dia yakin kepada Yang Maha Kuasa, bahwa ketika seseorang punya kemauan, keteguan dan keyakinan kepada Yang Kuasa, maha Dia pun pasti akan membantunya menemukan jalan yang terbaik bagi Negerinya. Dengan rendah hati, dalam hatinya Bagong akan siap dan ikhlas menerima amanah sebagai Presiden Negeri Impian. Trus Bagaimana caranya (Pertanyaan ketiga)?

Bagong tidak ingin nantinya terjadi konflik atau bahkan perang saudara di antara rakyat Negeri Impian. Jika dia memilih salah satu partai politik atau golongan yang mengusung dia, dia takut perselisihan itu akan terjadi. Ketidak puasan rakyat juga bisa berdampak sangat buruk. Bagong pun sudah ambil sikap bahwa dia akan mengambil jalur independen. Dengan jalur independen ini, Bagong tidak harus merasa ewuh-pekewuh dengan partai atau golongan manapun, toh kalah menang juga dia sendiri yang menanggung......

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban tersebut Bagong berencana untuk mengunjungi Semar lagi dan mengutarakan rencananya. Dalam pertemuan yang akan datang tersebut, Bagong sudah merencanakan hal-hal yang akan dibahas, di antaranya: kepastiannya bahwa siap menjadi CAPRES, persiapan pembentukan TIM SUKSES, dan strategi-strategi yang akan dilakukan.

Tujuh hari kemudian, pertemuan dilakukan di rumah Semar. Pertemuan dimulai dengan presentasi Bagong tentang hasil perenungannya selama 36 hari itu kemudian dilanjutkan dengan tanggapan dari Semar, Gareng dan Petruk. Ketiganya mendukung sepenuhnya rencana Bagong tersebut. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan pembentukan TIM SUKSES. Tim tersebut diketuai oleh PETRUK, mengingat bahwa Petruk memang memiliki kemampuan retorika yang lebih bagus dibanding Gareng. Semar sendiri akan mencari dukungan dari para "momongan-momongannya" dan juga dari para sahabat-sahabatnya. Gareng bertugas untuk mengevaluasi semua yang telah dilakukan oleh Bagong, Semar dan Petruk.

TIM tersebut kemudian mulai langsung bekerja. TIM merencanakan untuk mengadakan pertemuan dengan seluruh penduduk di desa Karang Kabulutan guna mendengarkan pendapat mereka tentang pencalonan Bagong jadi Presiden, dan jika memungkinkan akan mengadakan perekrutan anggota Tim Sukses. Pertemuan direncanakan dilakukan pada hari Sabtu Pahing.

(Bersambung)


Lihat juga:
Kalau Bagong Jadi Presiden (Bag. 3)
Kalau Bagong Jadi Presiden (Bag. 2)
Kalau Bagong Jadi Presiden (Bag. 1)

0 komentar: