Monday, February 04, 2008

SEMAR MBANGUN KAYANGAN


SEMAR MBANGUN KAYANGAN

Bagian 1
Di pagi buta di Desa Karang Kabulutan, Semar terlihat murung dan bingung. Dari wajahnya terlihat bahwa dia sedang memikirkan sesuatu, sesekali nampak kepalanya digeleng-gelengkan sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang dia cemaskan.

Beberapa saat kemudian, Petruk terbangun dan heran melihat Semar yang sedang murung dan bingung. Petruk ingin menyapa Semar, tapi dia takut kalau Semar marah sama dia. Akhirnya dia beranikan diri menyapa semara:
Petruk : “Bapak... ada apa bapak. Dari tadi saya lihat bapak termenung, seperti bingung memikirkan sesuatu. Ada apa bapak? Apa yang terjadi?”
Semar masih belum merespon. Dia tetap termenung dan terlihat memikirkan sesuatu. Petruk pun kembali bertanya.
Petruk : “Bapak.... ada apa? Apa yang terjadi? Apa aku, Kang Gareng dan Bagong bersalah sama bapak? Atau ada hal lain yang membuat bapak bingung?”
Semar pun masih terdiam, seperti tidak memperhatikan kehadiran Petruk.
Petruk : “Baiklah kalau begitu... Kalau bapak tidak mau bercerita apa yang terjadi, tidak apalah... Saya ke belakang dulu ya bapak?”
Petruk lalu hendak melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum dia melangkah Semar tiba-tiba berkata,
Semar: “Tole... bapak tidak apa-apa. Bapak hanya khawatir dengan nasib negara Amarta. Hati bapak gundah memikirkan nasib Pandawa. Ada sesuatu hal yang mengganjal di hati bapak... tapi bapak tidak bisa mengatakannya. Petruk... bapak ingin agar kamu pergi ke Amarta, menemui punggawa-punggawa Amarta. Lantas, sampaikan kepada mereka kalau bapak ingin pinjam 3 pusaka Amarta, Jimat Kalimasada, Payung Kencana dan Tombak..... untuk membangun kayangan. Satu lagi Petruk, sampaikan kepada semua Pandawa untuk segera datang ke Karang Kabulutan. Segera berangkat Petruk... Restu bapak menyertaimu.
Petruk pun meminta restu dari Semar dan langsung berangkat tanpa membawa bekal apapun. Perjalanan dari Karang Kabulutan hingga ke Kerajaan Amarata ditempuh selama 2 hari dua malam tanpa istirahat. Petruk pun sampai di Kerajaan Amarta dan langsung menghadap Raja Amarta.

Di singgasana, Raja Amarta (Yudhistira/Puntadewa) sudah duduk di sana. Tak lupa para penggede Amarta (termasuk Pandawa) sudah hadir di sana, di antaranya Bima, Nakula, Sadewa, Janaka, Krisna, Kunthi, Gatotkaca, Antareja.

Tak lama berselang, Petruk menghadap Yudhistria. Terlebih dahulu dia menyampaikan rasa baktinya kepada para penggede Amarta yang sebenarnya adalah momongan dia, tapi Petruk menyebut mereka majika (Ndara).

Petruk pun menyampaikan maksud kedatangnnya ke Amarta, bahwa dia disuruh Semar untuk Pinjam Tiga Pusaka untuk membangun Kayangan dan meminta semua Pandawa untuk datang ke Karang Kabulutan. Yudhistira adalah raja yang bijaksana. Dia meminta pendapat para penggeda Amarta yang hadir di situ, termasuk Krisna.

Krisna sebagai orang yang dituakan di Amarta memberikan pendapatnya. Dia tidak setuju dengan rencana Semar yang ingin membangun kayangan. Dalam pengertian dia, ‘kayangan’ yang akan dibangun oleh Semar adalah kayangan “suroloyo”. Hal ini bertentangan dengan kodrat semar di turunkan ke dunia. Niat Semar membangun kayangan “suroloyo” jelas tidak akan disetujui oleh para dewa di kayangan. Kemudian menurut Krisna, Pandawa di suruh datang ke Karang Kabulutan adalah untuk membantu Semar jika ada serangan dari kayangan dengan memberikan perlindungan. Krisna menekankan kembali bahwa niat Semar untuk membangun kayangan adalah salah, dan tindakan Semar harus diluruskan kembali.

Petruk kurang begitu senang dengan pendapat Krisna. Menurut Petruk niat Semar untuk membangun kayangan adalah baik. Hingga saat ini pun Semar tidak pernah melakukan hal-hal yang negatif. Selain itu, Krisna juga bukan raja di Amarta, jadi Krisna tidak berhak memberikan keputusan tidak diijinkannya semar pinjam ketiga pusaka atau tidak.

Bantahan Petruk tentu saja membuat Krisna marah. Krisna menganggap bahwa punakawan hanyalah ‘babu’ atau kasarnya “gedhibal pitulikur”. Omongan Krisna jelas membuat Petruk marah. Meskipun punakawan hanyalah ‘babu’, namun perlu diingat bahwa yang merawat pandawa dari kecil hingga dewasa adalah punakawan. Dan perlu juga diingat bahwa mereka bisa menjadi raja karena adanya dukungan dari orang-orang kicil. Jadi ketika mereka sudah berkuasa, sudah seharusnyalah mereka mengingat orang-orang kecil. Bukan menjadikan orang kecil sebagai “gedhibal pitulikur” atau diibaratkan seperti keset.

Melihat hal itu, Yudhistira mencoba melerai. Dia meminta Petruk untuk keluar sebentar dari ruang utama dan di suruh menunggu di luar hingga Raja Amarta memberikan keputusan. Petruk pun patuh dengan perintah Yudhistira.

Krisna masih bersikukuh dengan pendapat dia, bahwa rencana Semar untuk membangun kayangan adalah salah. Krisna bahkan langsung menyuruh Gatotkaca, Janaka dan Antareja untuk mengusir petruk atau jika perlu membunuhnya. Mereka pun menuruti apa yang diperintahkan Krisna. Setelah ketiganya keluar, Krisna pun mengikuti keluar.

Yudhistira tak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Dia bingung mana yang benar, Semar ataukah Krisna. Sadewa (salah satu dari Pandawa dan juga merupakan anak Bima) pun angkat bicara. Sadewa terkenal sebagai sosok yang cerdas dan teliti. Meskipun dia masih muda, tapi kepintarannya bagaikan seorang resi saja. Menurut Sadewa, yang dimaksud ‘kayangan’ oleh semar bukan hanya kayangan ‘suroloyo’. Hati/perasaan semar sebenarnya juga kayangan. Jadi yang ingin di bangun adalah hatinya semar, yang pada akhirnya juga akan membangun kekuatan pandawa.

Sadewa memberikan saran kepada Yudhistira bagaimana cara membuktikan siapa yang benar, Semar atau Krisna. Dia menyarankan agar para penggede Amarta bersemedi di depan kamar penyimpanan ketiga pusaka tersebut. Jika setelah semededi tersebut ketika pusaka masih tetap di tempatnya, maka Krisna yang benar. Namun, jika ternyata ketiga pusaka tersebut ‘jengkar’ dari tempatnya, maka Semar yang benar.

Bima menyetujui usulan Sadewa. Dia mengakui walaupun Sadewa masih muda, tapi pertimbangan yang disampaikan Sadewa sangat tepat. Akhirnya para penggede Amarta mengikuti saran Sadewa. Mereka berangkat untuk bersemedi di depan tempat penyimpanan ketgka pusaka tersebut.

Sesampainya di tempat penyimpanan ketiga puska tersebut, mereka bersemedi, memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Beberapa saat setelah mereka bersemedi, tiba-tiba ketiga pusaka tersebut terbang ke angkasa dan melesat ke arah desa Karang Kabulutan. Sekarang mereka tahu bahwa Semarlah yang benar.

Sadewa kemudian menyarankan agar mereka langsung berangkat ke Karang Kabulutan, tetapi melalui pintu belakang, sehingga Krisna tidak tahu kalau mereka sudah berangkat ke Karang Kabulutan.

Sementara itu di depan istana, petruk bertemu dengan Antasena (salah satu anak Bima yang bertubuh ular). Petruk menyampaikan baktinya kemudian menyampaikan tujuan kedatangannya ke Amarta. Dia juga bercerita semua yang baru saja terjadi di dalam istana. Antasena sebenarnya sosok yang kurang begitu waras, tetapi kadang-kadang pemikirannya bagus. Dia menanyakan kondisi Semar saat ini. Petruk bercerita pun bagaimana keadaan Semar. Semar sekarang bertingkah aneh, sering murung, dan kadang-kadang suka berbisik-bisik dengan Abimanyu. Semar sekarang ‘idu geni’ (maksudnya kali ada orang yang sakit, semar cukup meludah dan orang itu pun akan sembuh).

Antasena menilai bahwa apa yang dilakukan Semar itu benar. Selain itu, Antasena meyakinkan Petruk bahwa nanti akan ada yang memberikan keterangan atau jawaban atas permintaannya kepada Raja Amarta. Dia pun bersedia membantu Petruk kalau nanti ada penggede Amarta yang ingin mencelakakan dia. Antasena kemudian menyatu dengan tubuh Petruk.

Beberapa saat kemudian Gatotkaca, Antereja dan Janaka menemui Petruk. Mereka hendak menangkap Petruk dan memasukkannya ke dalam penjara. Bahkan mereka tidak segan untuk membunuh Petruk jika dia melawan.

Petruk yang sudah dibentengi oleh Antasena tidak merasa takut, di samping dia pun merasa apa yang dilakukan semar tidak salah. Yang pertama kali melawan Petruk adalah Gatotkaca. Dia langsung memegang kepala Petruk dan hendak memutar lehernya hingga patah. Namun Petruk tidak kalah akal, dia memutar tubuhnya searah dengan putaran kepadanya, sehingga lehernya tidak patah. Justru malah petruk bisa memegang tangan Gatotkaca dan melemparkannya hingga jatuh di depan Arjuna.

Arjuna pun tak tinggal diam. Dia langsung menyerang Petruk. Namun Petruk yang sudah di-back up oleh Antasena mengeluarkan semburan api yang sebenarnya merupakan jurus Antasena. Janaka pun tersungkur. Antareja yang melihat kekalahan Gatotkaca dan Janaka tak bisa hanya melihat saja. Dia langsung mengeluarkan semburan dan dibalas dengan semburan oleh Petruk. Semburan api keluar dari kedaunya. Antarena tak bisa bertahan lama, semburan apinya bisa dikalahkan oleh Petruk. Ketiganya lalu kabur dan hendak melapor ke Krisna.

Setelah aman, Antasena keluar dari tubuh Petruk. Tiba-tiba muncul empat sosok yang tidak dikenal. Antasena menjelaskan bahwa keempatnya adalah penjelmaan dari ketiga pusaka Amarta (yaitu Jimat Kalimasada, Tumbang Korowelang dan Songsong Tunggul Naga) dan senjata Cakra (senjatanya Krisna). Antasena menjelaskan bahwa ketiganyalah yang akan memberikan keterangan atau jawaban atas permintaannya pada raja Amarta. Dia pun menyuruh petruk untuk segera pulang, karena penggede Amarta juga dalam perjalanan ke desa Karang Kabulutan.

.........................................................................

Bagian 2

2 komentar:

songgojiwo said...

cerita yg menarik, tolong dilanjut mas.... penasaran nich...

Unknown said...

Good story please continous